Tantangan Membaca dan Menjadi Perintis Kegiatan Literasi

Tantangan Membaca dan Menjadi Perintis Kegiatan Literasi, Kesadaran akan pentingnya membaca semakin meluas. Selama ini rendahnya minat dan kebiasaan membaca baru menjadi keprihatinan berbagai pihak. Namun dengan adanya kebijakan Pemerintah melalui Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 23 tahun 2015 tentang Penumbuhan Budi Pekerti, sudah ada upaya besar-besaran yang dilakukan untuk mengatasi rendahnya kebiasaan membaca siswa Indonesia melalui Gerakan Literasi Sekolah (GLS). Gerakan Literasi sekolah. GLS adalah sebuah upaya yang dilakukan secara menyeluruh untuk menjadikan sekolah sebagai organisasi pembelajar yang warganya literat sepanjang hayat melalui pelibatan publik (Buku Saku Panduan Gerakan Literasi Sekolah, 2016). Kegiatannnya berupa pembiasaan membaca buku non pelajaran selama 15 menit setiap hari sebelum pelajaran dimulai.

bu-rahman-1

Di Provinsi Jawa Barat, GLS dilaksanakan melalui West Java Leader’s Reading Challange  (WJLRC). Ini adalah sebuah program kerjasama Pemerintah Provinsi Jawa Barat dengan Pemerintah Australia Selatan dalam bidang pendidkan untuk menerapkan kegiatan literasi di sekolah-sekolah di Jawa Barat secara masif. WJLRC merupakan pengayaan GLS dimana dalam WJLRC peserta bukan hanya membaca 15 menit tapi juga membuat review buku yang dibacanya serta mendiskusinya dalam kelompok.

Dinas Pendidikan Jawa Barat mendorong sekolah-sekolah di 27 kabupaten dan kota di Jawa Barat untuk menjadi sekolah rintisan kegiatan WJLRC. Masing-masing satu orang Guru atau Pustakawan dan Kepala Sekolah  sekolah rintisan tersebut diundang untuk mengikuti workshop agar siap melaksanakan program ini. Pada tanggal 14 sampai dengan 16 November 2016, SMP Internat Al Kausar yang ditunjuk sebagai salah satu sekolah rintisan di Kabupaten Sukabumi, mengirimkan Ibu Suryawati Ningsih, M.Pd. dan Ibu Rachmawati S.Sos. untuk mengikuti Workshop Perintis Komunitas Literasi Sekolah jenjang SMP Angkatan 2. Pelatihan tersebut bertempat di Hotel Bumi Makmur Indah, Lembang yang diikuti oleh 350 peserta.

Dalam pelatihan ini, peserta diperkenalkan tentang apa itu WJLRC, langkah-langkah pelaksanaannya di sekolah masing-masing dan kewajiban guru sebagai perintis komunitas literasi. Sekolah perintis ini nantinya akan mendaftarkan siswa yang akan mengikuti program WJLRC, membina peserta dalam kelompok dan mengunggah hasil review buku serta berbagai kegiatan terkait. Sedangkan siswa yang menjadi peserta ditantang untuk membaca buku sebanyak minimal 24 judul selama 10 bulan. Dua buku diantaranya harus berbahasa daerah (Sunda). Buku yang dibaca dibuat review dengan menggunakan teknik Fishbone, AIH, Y_Chart atau dengan infografik, kemudian mendiskusinya dalam kelompok. Satu kelompk terdiri dari maksimal 5 orang dan setiap sekolah maksimal mendaftarkan delapan kelompok. Siswa yang berhasil menyelesaikan tantangan akan mendapat medali dari Gubernur Jawa Barat. Selain itu ada 30 medali dari Pemerintah Australia Selatan bagi peserta yang dapat melampaui target dan dinilai inovatif. Kegiatan ini ditujukan untuk murid SD kelas IV dan V serta murid SMP Kelas VII dan VIII. Sekolah juga dianjurkan membuat Pohon Geulis yang berisi judul buku yang telah dibaca.

bu-rahma-2

Tantangan Membaca dan Menjadi Perintis Kegiatan Literasi, Di Al Kausar sebenarnya sudah ada program membaca yaitu Silent Reading yang dilaksanakan pada hari Jumat. Pada hari Jumat ini siswa membaca buku di kelasnya masing-masing. Buku yang dibaca bisa buku miliknya sendiri atau buku yang disediakan oleh perpustakaan. Sebelum Silent Reading dimulai, ketua kelas akan mengambil keranjang berisi buku yang dipilihkan Pustakawan atau dipilih wakil kelas yang bersangkutan. Perpustakaan juga menyertakan lembaran Reading Response untuk diisi oleh siswa. Pada Reading Response Sheet, siswa menuliskan judul buku yang dibacanya, baca halaman yang dibaca dan ringkasan bacaannya. Silent reading ini berlangsung selama 40 menit, yaitu selama jam pelajaran pertama. Selain itu, Al Kausar juga pernah mengadakan Reading Challenge. Maka In sya Allah, tidak akan sulit menerapkan program ini. Tinggal dibutuhkan konsistensi dari siswa sebagai peserta dan guru pembimbing untuk menyelesaikan tantangan menarik ini. (Rachma)