2017.10.25 SG PKn 3

Dalam rangka mempelajari perkembangan kolonialisme dan imperialisme di Indonesia dan memberikan penyadaran, pelajaran dan sekaligus peringatan akan pentingnya persatuan dan kesatuan bangsa, siswa-siswi kelas XI SMA Insan Cendekia Al Kausar mengikuti acara studium generale Sejarah Indonesia dengan tema Kolonialisme, Imperialisme dan Resistensi Islam Terhadap Penjajahan, yang diselenggarakan di Auditorium SMA Insan Cendekia Al Kausar pada hari Rabu (25/10) dengan pembicara Ibu Tika Ramadhini, S.Hum, BA, MA,  seorang peneliti dari Pusat Studi Ketimuran Modern (Zentrum Moderner Orient) dan mahasiswi S3 di Humboldt Universität zu Berlin.

Dalam sesi pertama, yang berlangsung dari pukul 7.30 sampai dengan 9.40, siswa dan siswi diajak melakukan pengamatan melalui pemutaran film dokumenter Capitalism and The Ducth East India dan The Spice Trail. Melalui pemutaran film-film tersebut siswa dan siswi belajar bagaimana kolonialisme dan imperialism dimulai dari penjelajahan samudera bangsa-bangsa Barat untuk mencari sumber-sumber rempah-rempah. Setelah sumber-sumber rempah-rempah ditemukan, dengan motivasi “Gold, Gospel and Glory” bangsa-bangsa Barat melalukan memonopoli perdagangan dengan cara-cara kekerasan. Monopoli bangsa-bangsa Barat akhirnya diikuti dengan penjajahan di kawasan-kawasan penghasil rempah-rempah Asia dan Afrika.

2017.10.25 SG PKn 1

Pada sesi kedua, yang berlangsung dari pukul 10.00 sampai dengan 11.30, dalam presentasinya yang berjudul Islam Vis a Vis Kolonialisme, Ibu Tika menjelaskan peran Islam sebagai ideologi dan praksis perjuangan untuk merebut dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Menurut Bu Tika, Islam adalah faktor pemersatu bangsa yang mengancam keberlangsungan  kekuasaan kolonial dan rust en orde (ketenangan dan ketertiban) ala Negara koloni. Perlawanan Islam sendiri  menurutnya terjadi dalam tiga periode: masa VOC, masa awal Hindia Belanda dan masa awal abad ke-20.

Pada masa VOC, pemimpin-pemimpin lokal Muslim memimpin perlawanan dengan cara perang konvensional atas nama Islam terhadap penajajah, misalnya perang Mataram Islam, Perang Gowa Tallo dan sebagainya. Pada masa awal Hindia Belanda, muncul insurgency, gerilya, dan  pemberontakan terhadap pemerintah colonial seperti ditunjukan dalam Perang Padri, Pemberontakan Petani Banten, Perang Aceh dan sebagainya. Pada awal abad ke-20, perlawanan dilakukan dengan membentuk organisasi-organisasi seperti Sarekat Islam dan Jong Islamieten Bond yang berkontribusi terhadap pembangunan kesadaran kebangsaaan.

Di akhir pemaparannya Bu Tika menjelaskan pentingnya kota Mekah dan Kairo sebagai dapur nasionalisme, karena di dua tempat itu tokoh-tokoh Islam dunia yang sedang berhaji, belajar dan mengajar berkumpul, berdiskusi dan membentuk gerakan internasional melawan penjajahan. Tidak heran jika kemudian pemerintah kolonial Hindia Belanda sangat kepo terhadap Mekah dan Kairo hingga membentuk komisi khusus Indigenous and Arabian Affair dan Konsulat Belanda di Jeddah untuk mengawasi tokoh-tokoh Islam Indonesia di sana. (mm)

2017.10.25 SG PKn 3

2017.10.25 SG PKn 5