Belajar Membatik Dapat Membentuk Karakter yang Kuat di Masa Depan

IMG_9529

Kegiatan keputrian merupakan kegiatan yang secara berkala diberikan kepada siswa dalam rangka pemenuhan kebutuhan di bidang keterampilan dasar khusus. Dalam keputrian kali ini, siswa kelas 7 dan 10 berkesempatan datang ke Batik Bogor Tradisiku, Tanah Sareal, Bogor untuk belajar membatik.

Dengan adanya kegiatan belajar membatik ini diharapkan dapat mendorong siswa menumbuhkan rasa cinta terhadap seni dan budaya luhur bangsa Indonesia. Selain itu, dengan belajar membatik, secara tidak langsung siswa juga dapat belajar membentuk sikap bertanggungjawab, teliti, fokus, sabar, serta disiplin pada diri mereka.

Sabtu, 21 Januari 2017 pukul 06.30 rombongan siswa yang berjumlah 34 orang beserta 3 pembina, Ibu Recci, Ibu Annisa, dan Ibu Hani sebagai pendamping, berangkat dari Al Kausar menuju Lokasi membatik di Bogor.

Sebelum memulai membatik, rombongan disambut oleh pegawai serta bapak Siswaya selaku owner. Rombongan dipersilahkan duduk terlebih dahulu di bangku yang telah disediakan di halaman depan. Acara dibuka dengan sambutan dari Ibu Annisa selaku koordinator keputrian, dilanjutkan dengan sambutan Bapak Siswaya. Dalam sambutannya, Bapak Siswaya sedikit menceritakan sejarah berdirinya Batik Bogor Tradisiku sebagai pionir adanya Batik khas di Kota Bogor.

Setelah itu, siswa dipersilahkan masuk kedalam “dapur” tempat membatik. Menuju tempat membatik di belakang, rombongan terlebih dahulu melewati galeri batik yang menyuguhkan kain-kain batik khas bogor yang begitu cantik baik dalam bentuk bahan maupun pakaian sudah jadi. Jika berminat, pengunjungpun dapat membelinya sebagai buah tangan.

IMG_9528

Sesampainya di dapur membatik, dibagi kedalam kelompok kecil, untuk memulai proses melukis dengan malam. Sebelum itu, peserta diberikan arahan atau totorial proses molani oleh staff Batik Bogor Tradisiku. Setelah itu, siswa siap untuk mempraktekan melukis malam dengan canting yang sudah disediakan pada kain berukuran 35 x 35 cm yang sebelumnya sudah diberikan motif/gambar oleh pihak Batik Bogor Tradisiku. Memang benar, kesabaran, ketekunan sangat berpengaruh dalam proses ini, karena jika pada proses awal saja sudah tidak rapih, akan berpengaruh pada hasil akhirnya.

Siswa juga pembina sebagi peserta sangat antusias, meskipun tidak semudah yang dibayangkan, sampai ada siswa yang hampir menyerah, tetapi pada akhirnya seluruhnya dapat menyelesaikan proses melukis dengan lilin malam ini meski dengan waktu dan hasil yang berbeda-beda. Bagi peserta yang sudah selesai pada proses melukis dengan lilin, dapat langsung melakukan pewarnaan dengan 3 colet warna yakni hijau, ungu, dan kuning. Proses pewarnaan ini sangat menyenangkan, karena peserta dapat bebas mengkreasikan warna yang ingin dikombinasikan. Kunci dari keindahan batik, salah satunya juga terletak pada pewarnaan.

Setelah pewarnaan selesai, tahap berikutnya adalah penjemuran. Setelah kering, dilanjutkan dengan proses pencelupan menggunakan NaCl yang membuat warna pada kain menjadi muncul dan terlihat cantik. Selanjutnya, dilakukan proses nglorot atau merebus kain pada air mendidih yang sudah dicampur dengan baking soda. Proses ini bertujuan untuk melepas (lilin) malam pada kain. Setelah itu, dilakukan pencucian dan pengeringan dengan menjemurnya sebelum dapat dibawa pulang oleh peserta membatik.

Proses membatik hingga menunggu kain kering, selesai sekitar pukul 12.00. Seluruh peserta nampak terkesima dengan hasil membatiknya. Dengan demikian, kegiatan membatik ini juga diharapkan dapat menumbuhkan keinginan siswa untuk dapat berperan aktif dalam melestarikan seni dan budaya dalam tingkat lokal, regional, maupun global. (icha)

IMG_9522

IMG_9520