Berita SMP Internat Al Kausar

Baksos Dan Study Tour di Kabandungan

Bencana alam akhir-akhir ini berdatangan silih berganti di Negara kita. Di kota maupun di daerah pedesaan. Kota Jakarta pun tak luput dari bencana yaitu banjir. Dari kejadian itu murid-murid Al Kausar terketuk hatinya. Mereka menyisihkan uang untuk memberi bantuan orang yang membutuhkan. Semula bantuan akan diberikan kepada korban bencana banjir di Jakarta. Namun, padatnya kegiatan sekolah maka rencana diubah untuk membantu daerah yang dekat dengan Al Kausar. Ternyata desa di daerah Kabandungan masih daerah tertinggal. Sebagian besar mata pencaharian mereka adalah pemetik teh.

Minggu 18 Maret 2007, murid kelas tujuh dan delapan SMP Al Kausar menuju daerah Kabandungan. Dua buah bus Al Kausar berjalan beriringan selama dua setengah jam. Diiringi rintik hujan, sejumlah 45 murid didampingi 15 guru dan pembina melewati jalan berkelok-kelok. Ketika jam menunjukkan pukul 10 sampailah bus di depan PT Perkebunan Teh Jayanegara Indah. Namun karena pabrik belum beroperasi maka kami menuju puncak perkebunan teh.

Bus yang ditumpangi ternyata tidak mampu mendaki. Maka penumpang turun dari bus. Setelah bus dikosongkan barulah bus dapat melaju ke puncak perkebunan teh. Meskipun udara dingin, sesampai di puncak keringat bercucuran. Dari puncak itu kita dapat melihat pemandangan indah. Kebun teh yang diselimuti kabut, disela-selanya nampak permadani hijau kebun teh. Ternyata di puncak itu terdapat pabrik gas pertamina. Ada beberapa truk tronton berjajar parkir. Para siswa berkesempatan berfoto di sana.

Setelah puas menikmati pemandangan, akhirnya kami turun untuk sholat dan makan siang di Pesantren Al Husnayain. Setelah sholat berjamaah dengan murid Al Husnayain, kami makan siang ala Pesantern Al Husnayain. Kegiatan di pesantren itu sekedar silaturahmi.

Acara di lanjutkan dengan menijau pabrik teh Jayanegara Indah.. Kegiatan ini berkaitan dengan pembelajaran IPS (ekonomi). Murid melihat langsung proses pembuatan teh. Konon pabrik ini sempat vakum beberapa tahun. Tahun 2005 baru diopresikan kembali. Pembuatan teh ternyata cukup sederhana. Dari bahan baku daun teh yang segar lalu dikeringkan melalui proses pemanasan, penganginan, dan penggilingan dihasilkan teh yang siap dipasarkan. Alat-alat yang digunakan juga tidak terlalu rumit pengoperasiannya. Dari bahan baku 10 ton daun teh segar, dapat menghasilkan 2 ton teh kering. Namun dipabrik ini hanya pengolahan sedangkan pengepakkannya di lain tempat.

Seluruh pekerja pabrik teh ini tinggal di sekitar pabrik. Mereka memperoleh tempat tinggal yang sangat sederhana. Rumah panggung ini ditempati secara turun temurun. Mereka diperbolehkan tinggal di rumah itu selama mereka bekerja di perkebunan tersebut. Maka ada diantara keluarga yang tinggal disitu selama empat generasi.

Pabrik ini berdiri pada tahun 1962 menurut salah seorang nenek yang menghuni salah satu rumah bersama anak cucunya. Pukul 14.00 acara dilanjutkan dengan pemberian bantuan sembako dan sarung. Setiap murid membawa 3 paket. Kegiatan baksos kali ini dikaitkan dengan pembelajaran bahasa Sunda. Paket sembako diberikan ke rumah warga oleh murid. Saat itu memberikan paket, mereka wawancara dengan menggunakan bahasa Sunda. Pertanyaan yang diajukan seperti siapa nama kepala keluarga, berapa jumlah anggota keluarga, nama desa, dst. Dengan demikian murid dapat melihat langsung keadaan masyarakat yang berbeda dari kehidupan para murid. Penghasilan yang diperoleh masyarat sebagai pemetik teh, besarnya berkisar antara Rp 10.00-Rp 12.000. per hari. Upah memetik teh setiap kilogram dihargai Rp 300 . Rata-rata mereka dapat memetik teh maksimal 40 Kg sehari. Mereka berangkat dari usai subuh hingga siang hari. menjelang waktu Dhuhur. Usai pembagaian sembako sebanyak 164 paket, akhirnya kami bersiap kembali ke kampus.

Hujan terus mengiringi perjalanan kami. Akhirnya sampailah bus di kampus pukul 17.00 WIB. Adanya rangkaian kegiata ini diharapkan murid mensyukuri nikmat yang telah mereka terima sehingga dapat memacu semangat belajar dan lebih bersyukur pada Allah SWT. Selain itu mereka dapat belajar langsung di lapangan dan memperoleh pengalaman belajar yang menyenangkan.(Wind)